| https://www.instagram.com/p/CnT8aN-LF9H/ |
Ketika sedang scroll twitter di tengah keramaian aksi yang sedang terjadi, saya menemukan tweet yang cukup berbeda. Tweet tersebut membahas sedikit tentang inner child dengan tweet utamanya adalah bertanya kepada pembaca tentang apa inner child pembaca yang belum didapatkan. Sebelumnya pandangan saya tentang konsep inner child adalah keinginan di masa kecil yang belum didapatkan, apapun itu. Namun tweet tersebut ternyata mengartikan inner child sebagai kebutuhan, bukan keinginan, yang nantinya akan memiliki dampak di masa dewasa.
Sebagai contoh, penulis tweet tersebut mengilustrasikan
inner child sebagai rasa sayang yang tidak didapatkan di masa kecil yang
berdampak di masa dewasa berupa sulitnya membuka diri. Sampai di titik tersebut saya berfikir, apakah saya memiliki inner child juga? Apalagi tweet utama
tersebut adalah pertanyaan tentang ada tidaknya inner child ke para pembaca.
Jika ditarik ke masa lalu, saya mengingat kala itu terkadang saya sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, seperti halnya anak kecil pada umumnya. Anak kecil cenderung menganggapnya semua dia perlukan, tidak membedakan yang mana keinginan dan yang mana kebutuhan. Sampai pada sebuah jawaban yaitu boneka pewayangan.
Sekilas jika hanya berhenti di sini akan menganggap hal tersebut sebagai keinginan karena tidak terjadi secara umum dan bukan sesuatu darurat yang harus dipenuhi seperti layaknya kebutuhan primer. Namun bagaimana jika keinginan tersebut datang dari sebuah potensi yang sebenarnya dapat dikembangkan? Apakah keinginan tersebut akan beririsan dengan kebutuhan? yang jika ditarik kembali kebutuhan tak terdapatkan ini yang akan jadi inner child di masa dewasa.
Saat kecil saya senang sekali dengan alur cerita. Dapat saya katakan bahwa tontonan saya saat itu adalah animasi ninja yang sangat populer yaitu Naruto dengan alur cerita petualangannya membuat saya terkadang mengimajinasikan petualangan yang berbeda. Apa yang terjadi andai saja tokoh ini tidak melakukan hal tersebut melainkan hal yang berbeda? Kurang lebih seperti itu.
Saya memiliki beberapa gantungan
kunci berbentuk tokoh-tokoh animasi tersebut. Saya sering kali membuat skenario cerita berbeda di kepala
saya sambil memainkan gantungan kunci tersebut selayaknya mungkin seorang perempuan yang memainkan boneka barbienya. Saya yakin saat itu saya tidak seperti anak
kecil seusia saya yang mengimajinasikan ceritanya berupa aktifitas-aktifitas sederhana,
karena saya mampu membuat rangkaian cerita sejak awal cerita
itu dimulai hingga runtutan cerita yang akan terjadi. Bukan hanya itu, saya
juga sempat menuangkan imajinasi tersebut ke dalam kertas gambar. Saya mengumpulkan
beberapa hvs kosong dan membentuknya menjadi buku kecil dan menggambar sendiri
cerita di buku tersebut layaknya seorang komikus meski gambar saya hanya sebatas gambar anak kecil.
Liarnya imajinasi saya saat itu ternyata merambat hingga ke tokoh pewayangan. Dibandingkan dengan gantungan kunci yang kaku dan kecil, boneka pewayangan lebih dapat berekspresi untuk bercerita dengan ukuran dan bentuknya yang lebih detail. Saya belum pernah menonton pertunjukan wayang secara penuh, bahkan saat itu yang saya tahu hanyalah tokoh bernama Cepot, tokoh yang lekat dengan suku sunda. Selain itu mungkin yang kurang-lebih menyerupai konsepnya adalah boneka dari program siaran Si Unyil. Tapi entah mengapa saya terobsesi dengan boneka pewayangan.
Saya meminta ke orang tua saya untuk membelikan boneka wayang. Saya ingat betul bagaimana saya keras kepalanya menginginkan boneka wayang itu dan beberapa hari sekali membahasnya. Saya selalu titip membelikan benda itu ketika orang tua ayah saya pulang setiap beberapa bulan sekali. Mereka hanya mengiyakan namun tidak pernah membelikan. Hingga pada akhirnya hasrat saya menghilang karena saya sadar kala itu orang tua saya tidak akan membelikan boneka wayang. Bukan salah mereka tentu saja, hanya saya yang anak kecil dengan keinginan randomnya.
Saya tidak tahu keadaan saya saat itu apakah sebagai inner child saya atau bukan. Sebab jika diumpamakan “andaikan keadaan yang sebenarnya berbeda”, apakah nyatanya saya dapat mengasah imajinasi saya dengan positif melalui boneka pewayangan yang mungkin berdampak cukup besar di masa depan saat ini
Jika ditanya, apakah saya masih menginginkan memiliki boneka pewayangan, jawabannya adalah iya. Namun jika ditanya apakah ketika setelah memilikinya, saya akan memainkan dan menyalurkan imajinasi saya, jawabannya adalah saya tidak tahu.
Belum ada tanggapan untuk "INNER CHILD BONEKA PEWAYANGAN"
Posting Komentar